Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan

Nyamuk, Dosa Apakah Aku !!!


Nyamuk, Dosa Apakah Aku !!!

Wuih.. akhir-akhir ini Aku sepertinya kena kutukan nih. Padahal sih saya tak merasa melakukan dosa. Ada sih empat hari yang lalu… tapi tak gede-gede amat kok. Iya saya habis ngebunuh “nenek” nya nyamuk. Abisnya jengkelin amat.

Masa gua tidur digigt melulu. Dah tau badan gua kurus kerempeng, masih aja ngisap darah gua. Kalau mau cari darah ke PMI aja. Disana stok darah berjubel-jubel, mau darah O, A, AB, bahkan Q..sampai Z ada kok.

Dan puncaknya nih hari kemarin. Gerombolan teroris berkedok nyamuk menyerangku habis-habisan. Semua badanku tak luput jadi sasaran moncong senjatanya. Termasuk bokong gua.

Dalam hati, saya ngemudeng gitu.. Ini nyamuk atau tawon yah… kok bisa nembus bokong segala… Apes banget… padahal lagi mimpi asik.. mimpi panjat pohon coppeng gitu (Nda tau apa itu coppeng, slamat yah..)

Saat itu aku berpikir dan terus berpikir (sok melamun gitu) mungkin ini karena aku habis ngebunuh neneknya empat hari lalu. Sehingga para dedongkotnya pun marah dan ingin balas dendam padaku.. Tidakkkk… teriakkku dalam hati gitu…

Untuk menghindari serangan pada malam berikutnya, Aku siapkan senjata pemusnah massal milik Alm Saddam Husein. Yah apalagi kalau bukan semprotan nyamuk. Dengan peluru yang terisi ful, aku mulai menembakkan kelangit-langit kamarku.

Sela meja belajar dan komputer pun tak luput dari bidikanku. Merasa telah aman.. Aku lanjutkan untuk beristirahat. Dan berdoa kepada Tuhan, semoga malam ini dapat mimpi indah lagi…

Baru juga tertutup kelopak mata ini (kira-kira 15 menit gitu), dengingan nyamuk terdengar diantara telinga dan ruang kosong diantara bantal kepalaku. Waduh Gila nih nyamuk.. Sudah dialambakapun aku masih diuber-uber… ujarku dalam hati. 

Mungkin karna aku bodoh..idiot atau parno kali yah, hingga kumengiranya itu adalah roh gentayangan dari si empu nyamuk yang kulalap dengan telapak tanganku beberapa hari lalu. 

Akhirnya dengan nada penyesalan Aku “bersenandung” sambil berucap, pliss jangan ganggu Aku lagi… kalau mau ngisap darahku silahkan.. tapi kagak usah bawa-bawa teman sekampung.. kumohon…

Hebatnya setelah “ritual” gila itu, nyamuk seakan-akan iba melihatku. Dan semenjak saat itu bokongku aman dari serangan gerombolan binatang bermulut jarum tersebut. Ingat jangan sembarang ngebunuh nyamuk, entar lo kualat loh. Mau bokongmu benjol-benjol…

Makassar, 28 Juni 2011
By, Armand Sholeh

Permainan Tameng Saat Keseriusan Cinta Digugat

Kehidupan cinta kadang kala memang cukup membingungkan kita. Sebuah goresan tinta emas dalam hati tak selamanya indah dan terus indah. Orang yang beranggapan cinta itu datangnya dari hati mulai dari pandangan mata cukuplah tepat. Namun tepatkah jika suatu hubungan kita pertanyakan?. Tepatkah pula jika keseriusan jalinan asmara kita, kita pertanyakan pada pasangan kita?? Jawaban beragam muncul dari hal ini.

Saat anda “menggugat” keseriusan pasangan anda maka timbul pertanyaan yang sudah pastinya adalah pertanyaan keraguan dalam diri anda. Anggapan kebanyakan orang, mereka yang sering mempertanyakan keseriusan hubungan tak lebih dari orang yang merasa tak percaya diri, kurang pede, kurang yakin, dan lainnya.

Begitulah hal yang saya dapat dari perbincangan singkat dengan seseorang. Bahkan ada beberapa dari mereka yang tak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, itu adalah hal yang tak logis dan tak wajar untuk diperbincangkan dan dipertanyakan!! 

Alasan-nya pun beragam. Contohnya saja, jawaban yang bersumber dari hati. “Biarkan hati yang menjawab”. Namun hati kadang kala berbohong dan tak selamanya tepat. Terlebih hati manusia siapa yang tau. Laksana gunung berapi yang meletus, hatipun begitu? Kadang meletup-meletup dan berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi hati saat itu. Jadi jawaban dari hati bisa dipertanggung jawabkan ataukah tidak, itu juga tergantung situasi dan kondisi hati kala itu.

Namun pertanyaan lain lagi muncul jika seandainya “gugatan” kita soal keseriusan hubungan tak menuai hasil. Pikiran pertama kita adalah apakah benar ia serius atauakah tidak. Kedua, apakah ia mencintai kita, dan yang ketiga, ia takut memberikan jawaban karena ia sendiri kurang yakin atas jawaban tersebut.

Berbagai tanggapan muncul, yang didominasi oleh pikiran yang ketiga tadi. Menurut seorang kawan, yang juga merupakan seorang reporter, pikiran ketigalah yang tepat untuk menggambarkan mengapa pasangan kita tak berani mengambil suatu keputusan. Apakah ia serius ataukah tidak.

Menurutnya, ketakutakan utama dalam diri mereka adalah ia sendiri kurang yakin akan jawaban yang nantinya keluar dari ucapan mereka. Jadi ia sengaja memberikan dalih-dalih ataupun tameng-tameng yang menggambarkan kebingungan-nya. Salah satunya adalah memberikan anggapan bahwa yang melontarkan pertanyaan tersebut dapat dikatakan kurang pede alias kurang percaya diri.

Jadi apakah itu adalah hal tabuh yang tak patut diperbincangkan dan dipertanyakan disaat kesetian cinta sudah hilang, disaat hati mulai ragu akan cintanya, disaat kita ingin mengetahui kepastian dan keseriusan cintanya ataukah hal yang wajar untuk dipertanyakan dalam suatu hubungan.

Yang jelas, ketika kesetiaan sudah mulai dipertanyakan dan keseriusan mulai di gugat, maka tameng pun akan dimainkan, agar cinta tetap ada???.

Mustadir Darusman
Makassar, 24 Agustus 2010,
Sebuah catatan kecil mengenai keseriusan cinta

Ketika Harus Memilih Cinta dan Agama


Bibirnya merah, dengan rambut disanggul menyerupai pemain kungfu dari cina. Menggunakan seragam putih hitam layaknya sales, pertama kali lelaki itu berjumpa dengannya. "Apa senyum-senyum. Baris rapi dan mulai menghitung," kata pria itu.

"Ia kak," jawabnya lembut, hingga jengkrik pun tak dapat mendengarnya. Mulailah gadis itu menghitung satu, dua, tiga, empat hingga seterusnya yang diikuti oleh kawan-kawannya satu persatu.

Beberapa hari kemudian, dengan seragam yang sama gadis itu duduk disebuah ruang dengan memamerkan wajah sendunya. J10 ruang itu. Ia duduk dibaris ketiga dari depan. Sesekali ia menampakkan tarikan bibirnya yang menawan."Itu cantik kawan. Odomi cepat sebelum di gembok sama yang lain," ujar salah seorang kawan dari lelaki tersebut. "Ah diakan masih maba. Belum tau apa-apa ner," sahut pria "gila" tersebut kepada kawannya kembali.

Pria "Gila" itu terus berceloteh. "Lagian saya belum mandi, nanti dikira saya ini bangkai," sahutnya kemudian disebuah teras kampus, dengan lapisan ubin putih tepat di depan sebuah ruangan dimana gadis idolanya tersebut duduk yang ukurannya tak lebih besar dari lapangan tenis.

"Ah, gayanajie. Tunggu? saya punya ide," kata kawannya sembari memasukkan tangannya kedalam sela-sela celananya sambil menggaruk karena gatal . Tak lama berselang gadis itu pun keluar. Menyapa kami semua dengan kata "ada apa kak? Saya ada pembekalan didalam," tanpa merasa ada yang ganjil ia pun mengatakan kembali "kalau tak ada apa-apa saya masuk lagi yah kak," tunggu dulu dik, bilang lelaki itu padanya. Kalau boleh tau namanya siapa? dan dari jurusan apa dik?. " oh itu. "Adalah kak. Yang pastinya saya dari jurusan elektro," jawabnya. Gadis itu pun kembali keruangannya sambil membawa tas selempangannya berwarna coklat bergambar miky mouse.

Mendengar jawaban tersebut, lelaki tidak waras ini riang tanpa sebab. Wajahnya berseri-seri seperti menang lotre ribuan US Dollar. Ia pun bersegera mandi dirumah seorang kawannya yang jaraknya tidaklah begitu jauh dari kampus teknik. Ia membilas badannya berharap daki yang menumpuk di sekujur tubuhnya hilang, walaupun itu hanya enam hingga tujuh timbah saja. Baik kalau pakai sabun?. Bukan hanya itu saja? Agar tampil rapi ia mengganti pakaian cumal yang dipakinya berhari-hari. Berharap dapat mempesona gadis pujaannya tersebut tanpa menyadari celana yang dipakinya sobek kiri kanan.

Hari-hari pun berlalu. Hingga pria gila itu benar-benar mulai jatuh hati padanya dan mencari tau segala sesuatu yang berhubungan dengan gadis tersebut. Walau sebenarnya, gadis itu tau bahwa pria yang berpenampilan acuh dan berantakan tersebut sering mencuri-curi pandang dengannya dan suka dengannya, namun hatinya seperti batu dan sulit untuk ditaklukan.

Hingga suatu ketika, pria rock n roll ini melihat gadis tersebut tepat berjalan didepannya. Gadis itu memakai baju pink, dengan jaket diikat dileher, rambut disanggul dan memakai sepatu jenis Croch berwarna bening, yang sering membuat jari-jemari kakinya menjadi lecet karena sempitnya sepatu yang ia gunakan.

Tanpa berpikir lama, pria ini menawarkan niat baiknya pada gadis tersebut. "Boleh saya antar pulang. Tidak pakai ongkos kok. Dijamin selamat sampai di tujuan," gombalnya pada gadis tersebut yang hanya disambut senyum manis sembari mengatakan "nda usahmi kak. Saya bisa pulang sendiri," sambil mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah menjauh dari pria tersebut. "Terima kasih kak," lagunya kemudian.

Ia menyadari kesalahan bodohnya. Ia tak sanggup mengungkapkan rasa sukanya pada gadis tersebut. Entah ia gugup ataukah hanya ekting belaka atau ia tak dapat berkata-kata karena kehabisan akal untuk menyampaikan niatnya itu. Hingga suatu malam di kediaman seorang teman baiknya yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah kos-kosan gadis tersebut, ia memberanikan diri untuk menelpon pujaan hatinya. Saya tau pulsanya saat itu hanya sebesar Rp 21.105 ribu, dengan ponsel fleksi merk nokia 6275i ditangannya. Sementara gadis tersebut menggunakan ponsel GSM jenis Nokia 6630.

"Selamat malam. Ngapain nih. Saya nda mengganggu kan," awal mula pembicaraannya dengan gadis tersebut yang tidak begitu lama."Baik ji kak. Ada apa?" balas gadis ini. Jantungnya terus bergetar terasa bak gunung meletus detik dimana ia ingin menyampaikan rasa suka pada pujaannya itu. Pria ini berada diteras waktu itu, duduk melantai dan harap-harap cemas atas apa yang nantinya ia katakan. "Gini, jangan kaget nah. Terserah mau nanggapi atau tidak. Mau nda jadi bagian dari hidupku?,kata pria ini disambut kebingungan oleh gadis tersebut sambil mengatakan "maksudnya apa? saya nda ngerti," okelah kalau gitu, saya langsung aja. Mau nda jadi pacarku?? tanya pria itu padanya. Ia sempat terdiam beberapa saat. Lalu ia menyampaikan saya mau tapi ada syaratnya, kata gadis itu. Apa syaratnya? Kata pria tersebut. Syaratnya mudah kok, saya ingin melihat kita berubah dan jangan lagi minum-minuman keras,main domino, dan lebih rapi lagi kalau perlu pakai kemeja, prasyarat yang diberikan padanya.

Ia pun menyanggupi prasyarat gadis itu, kecuali yang terakhir. Sukurnya, gadis itu mau mengalah soal pakian.Malam itu tidak ada jawaban pasti apakah ia menerima pinangan lelaki gila tersebut ataukah menolaknya. Gadis itu hanya mengatakan kita harus berubah dulu, setelah itu nanti saya kabari, apakah saya terima atau tidak? katanya, yang juga menutup pembicaraan malam itu.

Sudah hampir sebulan gadis tersebut tak pernah sekalipun memberikan jawabannya baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang pada akhirnya memaksa pria itu menelponnya kembali. "Selamat malam. Kapan kita mau bilang. Capema begini. Bilang saja kalau nda mau. Saya ikhlas jie," sulut pria tersebut. "Ia ini juga baru mau ngomong. Saya terima jaki. Tapi ingat dengan prasyratku. Awas kalau melanggar! Ancam gadis tersebut padanya. Alhasil sejak saat itulah dua sejoli ini resmi mendulang kisah kasihnya setahun lebih.

Sebut saja gadis itu Met-met, wanita terbaik yang pernah kukenal. Bintang Hidupku dan sih ubur-ubur adalah julukan buatnya. Ayu, berparas putih, pemalu, rabut ikal, tingginya kira-kira sebahuku, kukunya bersih, tahi lalat tepat dibawah bibir sebelah kanannya. laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Harry Potter adalah bacaan favoritnya. Apalagi kalau ada rujak ditemani musik korea semisal Utada Hikaru. Belum lagi hobinya yang suka ngemil kalau malam, dan kata-katanya "kita ito toh," yang selalu terngiang ditelingaku hingga sekarang. Barang-barang berbau pink hingga unggu adalah kesukaannya.

Namun kisahku telah usai dengan gadis kelahiran 9 November 1989 ini. Hubungan kami kandas 2009 lalu. Agar ia melupakanku kulakukan berbagai macam cara termasuk berpetualang cinta secara terang-terangan. Maklum sahabatnya kebetulan menjalin hubungan pula dengan sahabatku, saya yakin dengan cara ini berita mengenaiku pasti masuk kedalam telinganya. Tujuanku tiada lain agar ia membenciku dan memutuskan aku. Awalnya kuyakin ku dapat bersama dengannya untuk selamanya. Kutembus segala sesuatu yang menjadi penghalang bagiku. Aku tak peduli siapa dia? Dari mana dia berasal? Apa suku dan rasnya? Namun saat dihadapkan dengan "Agama" aku tak kuasa untuk menangkisnya. Tidak mungkinlah aku menyeretnya masuk kedalam kenyakinanku sementara kutahu dia adalah seorang nasrani taat.

Setahun lebih kupendam cerita ini dengan apik dan rapi tanpa seorang pun mengetahuinya. "This is reality" sms terakhir kukirim padanya, Sabtu 6 Juni 2010 lalu.

"Nda usah mi d jelaskan. Yg dl ya dulu nda usah mi d bw2 ke ms skrng...Mls ka ungkit2 yg dl, nda mrh ka jg.. Kyx bgtu mo sj," kutipan sms terakhir darinya yang kuterima. Kekecewaan sudah pasti menderanya, kata maaf pun tak cukup mengobati hatinya yang pernah kulukai. Seandainya Allah Swt memberikanku kehidupan sekali lagi didunia, saya ingin bersama dengannya, terlahir sebagai dua insan yang seagama dan seiman. Sehingga agama bukan lagi menjadi batu penghalang dan menjadi duri disetiap insan manusia yang saling mencintai.

"Maaf jika selama ini kumenyakitimu," adalah kata "basi" yang sering diungkapkan seseorang jika salah. Namun ku hanyalah manusia yang terjebak diantara dua pilihan antara kepercayaan dan cinta tulus dari seorang wanita yang benar-benar menyayangiku secara tulus, bersedih dikala aku sakit dan rela mengorbankan apapun demiku. Hanya maaf dan maaf yang bisa kusampaiakan.

Makassar, 6 Juni 2010
By, Mustadir Darusman (Armand)

Gadis dan Danau-nya


Sore yang indah dan cerah.
Suasana ini baru kudapatkan kembali setelah sekian lama aku menguburkan salah satu tempat terindah bagiku. Yah,sebuah danau kecil dibalut perhiasan pepohonan dan sejumlah orang yang menyalurkan hobinya melalui aktivitas memancing.

Sentuhan angin menambah kenikmatan tersendiri. Sederhana memang. Karena kesederhaan yang dituangkan inilah yang membuatku menjadi penikmat setianya.
 
Tak berselang lama aku menikmati suasana menyenangkan ini, seorang wanita mengenakan kerudung berwarna putih melayangkan senyumannya kepadaku sembari duduk di sampingku. "Perempuan aneh,"bisik hatiku.

Baru saja aku berniat pindah ke tempat lain, tiba-tiba wanita ini menyapaku. Awalnya aku menjawab seadanya, namun lama-kelamaan terasa akrab juga. Hanya saling bertanya nama, diapun mencoba bercerita tentang kehadirannya di tempat yang kami datangi saat ini.

"Tahu tidak,hampir setiap hari aku datang ke tempat ini. Aku hanya ingin tahu,apa istimewanya tempat ini,namun hingga sekarang aku belum menemukan apa yang selama ini aku cari. Lelah, namun aku tak mau berhenti hingga kudapatkan sesuatu yang selama ini kucari," katanya.

Kubiarkan wanita itu mengeluarkan semua yang ada dipikirannya. Aku hanya memotong pembicaraannya lewat senyumanku, menandakan bahwa aku ingin terus mendengarkan rangkaian isi hatinya yang penuh tanda tanya itu.

Sedih juga kisahnya. "Tangguh juga wanita ini. Bisa menceritakan luapan kesedihannya sementara matanya tak mengeluarkan butiran-butiran kesedihan, hanya jauh memandang kedepan," bisikku lagi.

Mungkin dirinya menganggap aku tak peduli. Disaat dia menceritakan bagaimana dia sangat mencintai seorang pria, bertahun-tahun dia menjalani jalinan cinta yang tak lama lagi dikukuhkan lewat sebuah ikatan pernikahan. Namun akhirnya sang pria mengambil sebuah keputusan yang membuat hatinya hancur. Aku hanya mengucapkan "Mudah-mudahan Allah selalu melimpahan kesabaran di hati yang kadang rapuh," ungkapku.

Aku hanya memberikan sedikit kata-kata yang kuharap bisa menenangkan hatinya yang galau. Namun dia tak menanggapi ucapanku lalu bergegas meninggalkan aku. "Dikasi obat kok seperti itu. Benar-benar aneh," gumamku lagi.

Ternyata wanita itu membawaku sedikit terlibat dalam menyikapi masa lalunya. Aku mencoba menghayati setiap kata yang keluar dari bibir manisnya. Delapan bulan yang lalu kisah memilukan itu menghiasi hidupnya. Semenjak itupula dia terus mencari penyebab keretakan hubungan yang menurutnya kebahagiaan bersama si dia tak akan bisa direngkuhnya lagi.

Lalu apa hubungannya dengan danau? Ternyata pria itu melontarkan sebuah kejujuran kepadanya bahwa dirinya tak bisa membohongi kata hatinya kalau gadis yang selama ini masih tersimpan rapi dihatinya adalah seorang wanita yang mengenalkannya dengan danau itu.

Sehari setelah pria tersebut mengucapkan kata-kata pahit itu, sebuah hal yang tak disangka-sangka. Maut lebih dulu menjemputnya. Terdiam sejenak, sekali lagi kulayangkan sebuah senyuman tipis dan hembusan nafas yang panjang dengan kisah yang kudengar itu.

Rupanya aku sudah berlama-lama ditempat ini. Kuputuskan untuk beranjak dan bergegas pergi. Namun upss,,ada secarik kertas yang berada tepat di bawah kakiku. Pasti kertas ini milik wanita aneh tadi. Aku tak menghiraukan dan tetap kulangkahkan kaki ini.

Namun ada perasaan yang tak wajar di hatiku. Ada sebuah rasa penasaran dengan secarik kertas usang tersebut. Kuberbalik arah dan mengulurkan tangan mengambil kertas itu. Mungkin aku salah dengan sikap penasaranku ini. Namun semua itu kutepiskan.

Dadaku berdetak kencang..semakin kencang..
Seakan tak percaya atas sebuah kepastian yang aku alami. Buliran air mata secara spontan mengalir disetiap sudut mataku.

"Meski ku tak tahu apa yang membuatmu pergi jauh dariku
Setahuku dirimu sangat mencintaku
Tapi aku hargai keputusanmu
Berat kurasakan, namun cintaku akan meringankan bebanku dengan mengikhlaskan kepergianmu disisiku.
Kapanpun engkau rindu atau kah sebaliknya, kuharap kita tak melupakan tempat yang selama ini menjadi saksi kisah kita,"

Yah..Ini isis tulisan yang aku kirimkan untuk kekasihku dulu. Pria yang dia sebutkan itu ternyata kekasih yang selama ini tak bisa tergantikan dihatiku. Sekian lama aku yakin jika suatu saat dia akan kembali padaku..

Danau...
Secara tidak sadar wanita itu telah menemukan jawaban atas apa yang dicarinya di danau ini. Jawaban itu adalah aku. Sementara aku, kutemukan jawaban di tempat ini karena ternyata kepergiannya membawa cintaku bersamanya dan jawabannya kutemukan di danau ini....?? Haruskah aku membenci tempat ini ataukah masih menjadikan tempat ini sebagai tempat terindahku??...

Makassar,15 Januari.

Ujang dan Kumbang-kumbangnya

JALANNYA berliku, penuh kerikil tajam, tanpa alas dikaki ditengah terik matahari yang menggosongkan tubuh tua rentahnya yang masih menarik becak tuanya demi membawa pulang sebungkus nasi tanpa lauk buat keluarganya.

Kondisinya yang beranjak tua, tak mampu ia tepis. Namun kegigihan dan angan-angannya yang tinggi untuk membahagiankan orang yang ia cintai tak luntur dimakan oleh waktu.

Jerami usang yang pengak, tempat berteduhnya dari malam yang dingin dengan beralaskan terpal sebagai pelindung tubuh usangnya yang tua rentah tak membuatnya mengeluh untuk dikasihani.

Dialah Ujang, pria yang lahir 68 silam di kota kecil di daerah metropolis ini yang penuh intrik dan sulap menyulap demi kepentingan golongan tertentu saja.

Disisirnya setiap jalan di kota yang terkenal dengan kota daeng ini. Tanpa sadar keringat telah membasahi bajunya yang kusut compang camping. Ia tak pernah mengeluh, hanya harapan dan doa kepada yang agung terus ia panjatkan.

Mungkin sebagian kita “mengkultuskan” nya. Kita hanya menganggap mereka tak lebih dari sapi perah yang tak punya otak dan menjadi benalu di kota yang dicanangkan menjadi city cyber.

Namun kita tak pernah terbangun dari mabuk kita? Kita selalu menganggap diri kita lebih. Padahal belum tentu kita mempunyai sesuatu yang cukup dibanggakan, selain ketamakan dan merendahkan orang-orang seperti Ujang.

Ingatkah kata ini “Inggris kita setrika,” benar!! itu kata Bung Karno dahulu. Mengapa kita tidak setrika kemiskinan dan menjadikan Ujang sebagai contoh tauladan bagi kita.

Ataukah setrika itu kita peruntukkan buat Ujang, dengan “mematikan” profesinya yang cukup ia banggakan. Tempatnya mencari setangkai melati untuk dibawakannya kepada kumbang-kumbangnya.

Entalah, penulisnya kah yang “gila” karna suatu obsesi. Atau memang kita tak pernah memberikan cinta kita terhadap seorang yang mempunyai profesi seperti Ujang, atau pemerintah kita yang perlu impusan dan sedikit suntikan beracun”!! Entah..Entah..Entalah.

Makassar, 09 Juni 2010
Mustadir Darusman

Perempuan Perkasa


WAJAHNYA tampak lelah, seharian dia berada di tengah sawah.  Memotong dan mencabut gulma yang menghambat pertumbuhan padinya. Ia segera berdiri dan berusaha memperbaiki posisi punggungnya yang dari tadi membungkuk. Matahari berada pas di atas kepalanya bersinar terik.

Ibu- Seorang Ibu dengan anaknya
Ia pun beranjak dari tempatnya menuju ke pematang sawah yang dilindungi oleh rindangnya pohon mangga. Daunnya yang lebat mampu melindungi tubuh itu dari sinar matahari. Perlahan-lahan ia melepaskan topi kerucutnya, bentuknya yang lebar mampu menahan panasnya terik matahari.

Selain topi ia pun membuka sehelai baju tipis yang dijadikan sebagai topeng. Angin pun perlahan-lahan bertiup dari arah barat sehingga rambutnya yang setengah bahu itu terurai, disela-sela rambutnya sudah tampak rambutnya yang mulai memutih. Ia berhenti sejenak, kemudian mencuci kakinya yang penuh lumpur itu dengan air parit yang mengalir tenang di depannya.

Ha...ia pun mendesah pelan seakan-akan mengeluarkan rasa capeknya setelah setengah hari berendam di tengan sawah sambil memotong gulma dengan pisau besi di tangannya.

Kakinya tampak memutih dan keriput-keriput karena terlalu lama berendam dengan air sawah. Ia pun merasakan kakinya mulai gatal-gatal karena protozoa yang ada di air sawah itu mulai mendapat makan segar. Ah... biar saja. Protozoa-protozoa kecil ini pun akan nanti menjaga padi-padiku, menjadi kandungan makanan bagi padi-padiku sehingga nantinya akan beranak dan berbuah banyak. Ini untukku juga dan keluargaku. Ia tampak tersenyum simpuh melihat seekor burung pipit jantan yang berusaha membuat sarang di atas pohon mangga tempatnya berteduh.

Ia meresakan kebahagiaan yang begitu damai, menyaksikan burung pipit itu membawa selembar demi selembar ilalang coklat kemudian dikumpulkannya menjadi sarang. Pipit betina pun menyambutnya gembira dengan bahasanya yang khas.


Perempuan bertubuh kurus itu yang menyaksikan aksi pipit tadi hanya bisa tersenyum menyaksikan keluarga pipit yang hidup dengan sederhana. Mungkin sarang yang mereka bikin itu akan selesai besok, jadi pipit betina akan merasa nyaman mengeluarkan telurnya sampai ia mengeram telur-telurnya pipit baru lagi akan melengkapi keluarga yang sederhana ini.

Perempuan itu pun mulai merasa perutnya patut untuk diisi. Ia pun membuka bungkusan kain berwarna biru yang dibawanya dari rumahnya. Bungkusan ini berisikan makanan siangnya; nasi putih, sayur bayam, dan ikan kering goreng yang dibikinnya tadi subuh sebelum ia berangkat ke sawah. Ia pun menyantap makananya pelan.

Angin sepoi-sepoi meniup padi-padi menghijau bak gelombang laut yang saling kejar-kejaran. Di sampingnya suara bunyi air mengalir dengan tenangnya, seakan-akan membentuk satu alunan hidup yang menemaninya makan siang. Ada kesepian yang dia rasakan, tapi rasa sepi itu kemudia hilang setelah ia memalingkan muka dan menyaksikan keluarga pipit kini menyambut datangnya anggota keluarga barunya.

***
Perempuan itu adalah ibuku. Perempuan yang sangat kukagumi dari rahimnya aku lahir. Dengan air susunyalah aku tumbuh menjadi manusia. Ibu yang merana yang harus ditinggalkan oleh suaminya karena takdir kejam telah tertulis di garis tangannya. Ia kini menjadi sindiri membesarkan kedua anak perempuannya yang telah tumbuh menjadi remaja yang lincah.

Sejak ayah meninggal ibulah yang mengerjakan semua tugas ayah. Ibu adalah ibu kami sekaligus ayah kami yang bertanggungjawab menafkahi anaknya. Aku dan adikku tak sanggup melawan keinginan ibu. Berkali-kali aku sudah mencegah ibu agar tak terlalu memaksakan diri untuk kerja keras. Kami tak perlu dengan harta yang melimpah. Ibu harus menerima rezeki yang kami terima sekarang ini tak sebesar dengan rezeki yang kami dapat saat ayah masih ada. Ini kenyataan dan mulai dari sekarang kami harus belajar untuk memahami kenyataan yang ada.

Berkali-kali aku menegur ibu saat ibu memaksa keras untuk ikut maddaros sampai ke kabupaten sebelah hanya untuk mendapatkan gaji Rp 15 ribu perak perharinya. Ibu berangkat pagi-pagi sekali menaiki mobil terbuka dengan muatan yang tak selayaknya. Ibu dan sekitar 40 orang temannya naik mobil tanpa fasilitas tempat duduk. Ini sama sekali menyalahi aturan departemen perhubungan dan sangat membahayakan nyawa manusia. Di sana ibu harus berkelahi dengan sinar matahari yang terik dan perjalanan sampai berkilo-kilo untuk sampai pada sawah yang akan di panen.

Ibu yang berwatak keras tak pernah mau mendengarku. Yang ada dalam pikiranya ia harus berusaha bagaimana membiayai keperluaan sehari-harinya tanpa harus mengganggu gugat tabungan hasil kerja kerasnya bersama ayah. Baginya tabungan itu sangat berharga karena tabungan itu didapatkan dengan susah payah bersama ayah. Dalam tabungan itu terserap butir-butir keringat mereka saat menyemai padi sampai padi itu ada di tangan tengkulak.

Angin malam berhembus pelan. Baru saja kami telah makan malam menikmati menu paforit kami; nasi putih, sayur bening dan ikan asing bakar yang disiram dengan minyak kelapa. Napasku terasa berat. Aku memberanikan diri untuk bicara dengan ibu memabahas kembali yang aku katakan pada ibu tempo hari yakni melarang ibu untuk pergi maddaros. Tapi nihil usahaku sia-sia dan tidak berhasil. Ibu malah membacakan pidatonya.

”Ibu takkan berhenti untuk ikut maddaros selama masih musim panen dan Allah juga masih meminjami umur dan kesehatan,” jawab ibu tegas. Suasana menjadi hening. Ia pun kemudian mulai bercerita, menceritakan kisah hidupnya yang malang.  

Ibu sangat menghargai tabungan itu. Jadi ia harus mentaktitisi agar tabungan itu tak terpakai. Barangkali itu menjadi dana jaga-jaga, dana taktis jika hal tak terduga datang.

Ibu sudah menjadi yatim sejak berumur tiga tahun jadi sedemikian rupa ibu sudah belajar untuk mandiri. Irit adalah sifat khas ibu, tapi irit bukan berarti pelit. Demikian juga ayah. Ayah pun sudah menjadi piatu sejak umur 5 tahun. Paling tidak ayah dan ibu dipertemukan dengan nasib. Kisah ayah lebih tragis lagi, sejak ibunya meninggal ia harus melawan nasib yang begitu tragis. Menjadi gembala cilik melewati padang rumput, mengembalakan sapi-sapi tetangganya hanya dengan upah satu ekor anak sapi jika kelak sapi yang digembalakan itu melahirkan.

Ayah hidup di ’persimpangan’ tak punya tempat tinggal yang tetap. ”Ayahmu jarang di rumah lamanya apalagi di rumah baru tempat kakekmu dan istri mudanya. Ayahmu lebih senang tinggal di rumah tante-tantenya dan hidup dari balas kasihan tante-tantenya yang mengajaknya makan. Dan ayah pun menikmati nasibnya sampai ia dewasa,”kata ibu.

Ayah tak betah tinggal di rumah kakek yang sudah beristri muda. Hidup kakek masih tetap melarat dan kebisaan berjudi masih sering dilakoninya. ”Setiap kali ke sana ayahmu pasti sakit parah. Bahkan sampai berbulan-bulan,” tambah ibu.

Ayah pernah bercerita mengapa ia tak bisa membaca dengan lancar. Itu karena ayah memang tak tamat sekolah dasar. Waktu itu ayah duduk di kelas empat SD menjelang ujian kenaikan kelas ayah sakit. Ayah tertinggal mata pelajaranya karena terserang penyakit aneh. Berbulan-bulan ayah sakit, seluruh badannya kaku tak dapat digerakkan. Mulutnya seakan-akan terkunci tak mampu mengeluarkan kata-kata satu pun. Ia menjadi bisu dalam kepedihannya. Dan itulah yang membuat ayah sedikit gagap.

Anehnya, walaupun ayah tak pernah masuk sekolah selama satu tahun ayah masih tetap naik kelas. Tapi ayah tak berniat untuk melanjutkan sekolah. Ekonomi sudah menjadi alasan klasik. Lagi pula ayah tak dapat menerima keputusan gurunya untu naik kelas. Lebih baik tinggal kelas sekalian, karena ia merasa belum layak untuk itu.

Ayah memilih menjadi gembala sapi.  Hasil gembala sapi inilah telah mengubah segalanya. Kakek yang memang melarat kemudian menjual seekor sapi ayah sebagai modalnya untuk merantau ke Pulau Kalimantan. Kakek pulang dari rantauan dan menjadi perantau yang sukses. Ia membangun rumah mewah dari kayu hitam pilihan dan menjadi pengusaha kayu yang sukses. Boleh dikata kakaek sudah kembali ke jalan yang benar dan hidup berlandaskan agama dan meninggalkan kebiasaan berjudinya.

”Sampai akhirnya ibu dan ayahmu dipertemukan. Keluarga besar telah menjodohkan kami. Ayahmu adalah laki-laki pertama dan terakhir yang ibu cintai. Untuk itu ibu ingin melanjutkan harapan ayahmu. Melihat kalian berdua jadi ’orang’. Keluarga kita bukan siapa-siapa. Kita tidak punya orang dalam yang bisa membatu kalian untuk menjadi orang. Itulah sebabnya ibu mau berkelahi denga waktu menyisakan waktu ini untuk bekerja, semua ini untuk kalian Nak,” kata ibu.

Tapi Ibu, kami tak perlu itu ibu, kami takut terjadi sesuatu dengan ibu. Ingat kesehatan ibu. Akhir-akhir ini ibu sering mengeluh sakit dengan bekas operasi gondok ibu. Kami takut Bu.

Ibu yang matanya sembab terus menjelaskan diiringi lantunan lagu menunggu yang dinyanyikan oleh penyanyi favorit ayah Rhoma Irama. Mendengarkan nyanyian Rhoma Irama sama halnya dengan mengingat ayah. Ayah yang punya bakat tersembunyi dianugerahi suara yang merdu melantunkan lagu favoritnya, tiada hari tanpa Rhoma Irama. Tak heran lagu-lagu itu kami hafal tanpa harus melihat teksnya.

”Semuanya butuh uang Nak, orang-orang itu takkan melirik kita jika kita tidak punya uang. Uang adalah segalanya. Tak heran orang-oarang tergila-gila dengan uang karena uang dapat membeli jabatan, kedudukan harkat, dan martabat manusia. Manusia yang terpandang adalah manusia yang punya banyak uang. Jika salah-salah tak mendapatkan uang bahkan membuat orang saling membunuh bahkan menjadi penghuni tetap rumah sakit jiwa. Tak ada uang sama halnya kami mengantarmu ke kehidupan tragis yang telah kami lalui dan itu sama sekali bukan tujuan kami.

”Ibu tak perlu khawatirkan kami, kami dapat mencapai cita-cita ibu tanpa harus mengeluarkan pejabat daerah untuk dimasukkan dalam daftar pegawainya. Kami punya kemauan Bu, dan kami punya bakat itu. Mudah-mudahan bangsa ini masih membutuhkan putra-putrinya seperti kami yang tulus. Kami sadar tantangan kami ke depan sungguhlah berat Bu, tetapi tekat kami takkan surut. Bayangan ayah selalu mengiringi langkah kami. Dan nasehat-nasehat ayah masih terus teriang di telinga kami. Kami butuh ibu, dan kami tak mau ibu kenapa-kenpa. Cukuplah kami kehilangan ayah, kami harap ibu dapat mengerti maksud kami.          


Makassar, 2007
Oleh Sang sahabat, Suryana Anas (Reporter Tribun Timur)

Manisnya Tebu Tak Semanis Nasib Petaninya


BERBEKAL sepeda tuanya yang bontot, berusia kira-kira separuh umurnya yang telah memasuki kepala tujuh, Kakek tua rentah ini mengayuh sepedanya menuju sebuah lahan pertanian tebu yang letaknya ratusan meter dari tempat tinggalnya di kabupaten Takalar. Takalar adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang jaraknya 75 kilometer dari Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Petani tebu. Di Upload dari Google
Kakek ini adalah seorang buruh harian (Petani tebu) yang bekerja disebuah lahan milik pemerintah di wilayah Polongbangkeng, kabupaten Takalar Sulsel. Walaupun telah puluhan tahun menjadi petani tebu. Pria tua ini tetap saja berkutak dengan kemiskinan.

Polobangkeng adalah sebuah wilayah yang terbagi dalam dua kecamatan. Yakni Polobangkeng utara dan selatan. Di daerah ini sedikitnya terdapat 12 desa, yang 85 persen penduduknya adalah petani miskin.

Sepertinya petani disana tak akan pernah sejehtera. Mengingat upah dan terus merosotnya harga gula. Kebijakan pemerintah yang tak pernah berpihak terhadap petani tebu ini menjadi pokok permasalahannya. Mungkin Kakek tersebut juga adalah korbannya.

Sampai kapan pun petani tebu ini tak akan pernah bisa menikmati manisnya harga gula, seperti harapan mereka sebelum-sebelumnya. Membanjirnya gula rafinasi di pasaran membuat anjlok harga gula, yang tentunya berpengaruh pada petani miskin seperti kakek tadi.

Akibat dari membanjirnya gula jenis rafinasi dipasaran, mengakibatkan puluhan ton gula tebu tak terjual, yang memaksa petani gula didaerah ini harus gigit jari, melihat terus merosotnya harga gula. Padahal, petani dan produsen gencar melakukan operasi.

Walaupun pabrik gula Takalar di bawah kendalai PT Rajawali Nusantara Indonesia akan kembali dihidupkan, belum tentu menjadi jaminan bahwa petani seperti kakek dari 12 orang cucu tersebut dapat merasakan manisnya harga gula.

“Saya tak pernah berharap menjadi kaya nak. Saya hanya berharap kami bisa menikmati manisnya harga gula seperti manisnya tebu. Cukuplah hidup kami seperti ini. Entah sampai kapan kami semua dapat sejahtera,” kata kakek tersebut, sembari mengusap keringat di wajahnya yang keriput.

Pabrik gula ini merupakan pabrik gula kebanggaan Sulsel. Rencananya dalam waktu dekat ini, pabrik gula tersebut akan beroperasi kembali, dan diharapkan dengan beroperasinya kembali pabrik gula ini, kebutuhan stok gula nasional bisa ditutupi.

Namun ini bukan lagi sebuah jaminan, pemerintah tidak mendatangkan gula dari luar. Mengingat otak dari pemimpin bangsa ini adalah otak-otak “”ular”. Mereka lebih mencari keuntungan pribadi dari pada memperhatikan kesehjatraan petani gula yang mungkin telah bertahun-tahun bekerja namun tak pernah sedikit pun mencicipi manisnya gula tersebut.

Ini adalah bentuk dan gambaran refleksi dari sebuah petani tebu, seperti kakek tadi yang telah bekerja puluhan tahun namun tak pernah merasakan manisnya harga gula, seperti manisnya tebu yang dihasilkan. Ini bukan terjadi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan saja. Namun hampir disemua daerah di Indonesia. (arm)


Sebuah catatan kecil tentang nasib petani tebuh. Makassar, 19 Juni 2010, Mustadir Darusman (arm).